PERBEDAAN ANTARA OBAT DAN SUPLEMEN

Apa Perbedaan Obat dan Suplemen?

Tema ini memang kurang populer tetapi sesuai dengan janji saya pada postingan yang lalu bertajuk: “Penyebab dan Cara Mengatasi Keputihan,” maka sekaranglah kesempatan yang baik untuk membahasnya.
Secara wujud boleh jadi keduanya mirip, bisa berupa sama-sama pil, tablet, bubuk, kapsul, cairan atau krim. Namun berdasarkan sumber/ bahan baku, dosis pakai, pengguna, efek samping, fungsi dan urgensinya maka dua benda ini memiliki perbedaan yang sangat jelas. Berikut saya rangkum 6 perbedaan antara obat dan suplemen makanan;

Obat bersumber dari  kimia sedangkan suplemen dari bahan alami.

Yang perlu diingat adalah bahwa semua zat di dunia pada dasarnya bersifat kimia, namun ada yang alami ada yang buatan. Tetapi lazimnya jika menyebut bahan kimia maka yang dimaksud berarti bahan-bahan sintetik/buatan hasil rekayasa manusia di laboratorium. Itulah yang menjadi bahan baku obat meskipun benar bahwa suplemen yang baik juga melalui proses uji laboratorium, akan tetapi bahan dasarnya bersumber dari alam langsung.

Perbedaan berdasarkan pemakai dan fungsi.

Hanya orang sakit yang boleh minum obat sedangkan suplemen orang sehatpun boleh mengonsumsi bahkan dianjurkan. Jika tubuh sedang baik-baik saja tentu tidak boleh minum obat, setidaknya sangat tidak disarankan. Obat sekali lagi hanya untuk orang sakit itupun sebaiknya berdasarkan resep dari dokter. Suplemen boleh dikonsumsi siapa saja dalam arti yang sakit diperbolehkan, yang sehat juga boleh agar makin bertambah sehat.
Barangkali mengandalkan suplemen saja untuk menyembuhkan sakit parah dalam waktu cepat kurang efektif secara waktu, tetapi jika difungsikan sebagai tambahan maka akan mempercepat penyembuhan karena kaya nutrisi. Pemakaian suplemen memiliki manfaat yang sangat baik karena menguatkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan pemakaian obat yang terus-menerus justru makin melemahkan daya tahan tubuh. Kemungkinan dengan obat bisa lebih cepat sembuh, namun ke depannya lebih mudah terkena penyakit lagi.

Obat wajib memperhatikan dosis, tidak seperti suplemen.

Penggunaan obat harus ekstra hati-hati. Anda jangan coba-coba berlebihan meminum obat, karena pada dasarnya tubuh memiliki batasan dalam mentolerir zat asing sintetik yang masuk. Hal itu tergantung usia, jenis kelamin, tekanan darah atau parameter-parameter lain yang dokter lebih tahu. Maka misalkan dokter menganjurkan dosis 500mg paracetamol dua kali dalam sehari, berarti itulah yang dibutuhkan untuk mengusir penyakit sekaligus sebanyak itu pula batasan maksimal yang dapat diterima tubuh kita. 
Sementara itu, di dalam suplemen yang baik dan teruji, tidak ada zat yang tidak bermanfaat yang bersifat membahayakan meskipun kadar konsumsinya berlebih. Suplemen itu penuh dengan antibiotik alami dan kaya nutrisi dan bukankah tubuh selalu membutuhkan nutrisi?. Jika kelebihan akan disimpan sebagai cadangan makanan dan yang kurang diperlukan akan dibuang melalui mekanisme tubuh secara alami. Walau demikian, orang bijak mengatakan; “segala sesuatu bila berlebihan tetap kurang baik,” maka sebaiknya penggunaan suplemen yang tepat adalah sesuai kebutuhan saja.

Obat menyisakan residu racun sedangkan suplemen membersihkan racun.

Inilah perbedaan sifat pokok dari keduanya. Obat (baca: obat kimia), pada hakekatnya adalah racun yang karena suatu urgensi maka dikonsumsi manusia untuk meracuni atau membunuh kuman penyakit maupun sel-sel abnormal dalam tubuh orang sakit. Coba perhatikan lambang-lambang dunia medis modern dan lambang apotek misalnya yang mengandalkan pengobatan kimia, Anda bisa melihat ilustrasi ular yang melilit gelas bukan?. Ular identik dengan racun, meskipun memang ada yang mengartikan proses penjinakan penyakit.

Perbedaan Obat dan Suplemen Makanan

Jika terlalu banyak dan sering meminum obat, maka sisa-sisa zat kimia dari obat yang bersifat racun itu menumpuk dalam tubuh, meskipun kita sudah sembuh dari sakit. Zat sisa itu tidaklah bermanfaat juga tidak mudah diluruhkan sehingga ketika sedang kurang fit dan toleransi tubuh terhadap racun tersebut melemah maka kita lebih mudah sakit. Untuk itu, disarankan selepas pengobatan (jika terpaksa dengan obat kimia) selanjutnya perbanyaklah konsumsi suplemen untuk pemulihan kondisi sebab beberapa jenis zat dalam suplemen bersifat membersihkan racun/ toksin yang kemudian dikenal dengan istilah detoksifikasi. Seandainya suplemen yang dimakan kelebihan kadarnya, maka dapat dikeluarkan dengan mudah oleh tubuh kita bersama dengan tinja, air kencing maupun keringat.

Dosis pemakaian obat bisa makin naik namun tidak dengan suplemen.

Kuman penyakit entah dalam bentuk virus, bakteri, jamur atau parasit lain memiliki sifat makin lama makin resisten terhadap obat kimia. Mungkin ini terjadi karena kemampuan adaptasi dari makluk ini. Jika seseorang yang sakit akibat kuman A kemudian meminum obat B lalu sembuh, maka suatu saat ketika mengalami sakit yang sama karena penyebab yang sama belum tentu masih cocok dengan obat B. Kalaupun masih cocok maka frekuensi terkena penyakit tersebut akan makin sering dan dosis obat B itu harus dinaikkan agar mempan. Bisa dikatakan dosis makin naik, seperti kecanduan tetapi dalam jangka panjang jika diulang-lang maka tubuh sebenarnya makin lemah. Sedangkan konsumsi suplemen yang sama secara berulang dan terus-menerus justru berpotensi badan makin sehat karena kekebalan tubuh semaikn baik.

Pahami perbedaan antara efek samping dan reaksi awal.

Sebagai gambaran mungkin harus melalui contoh kasus ya. Anda menderita flu, pilek dan bersin-bersin yang membuat risih karena banyak lendir pada saluran nafas bagian atas. Kemudian meminum obat entah dari dokter, apotek atau terkadang ingin praktis membeli di warung. Jika sakitnya tidak terlalu berat maka tidak lama setelah minum obat pilek Anda berhenti, tetapi kemudian  Anda merasakan tenggorokan kering, perut kurang nyaman karena agak mual lemas dan jantung berdebar. Bahkan untuk pengobatan jangka panjang bisa menimbulkan pendengaran berkurang serta lidah terasa pahit. Itulah contoh yang disebut efek samping yang memang biasanya di dalam kemasan obat sudah dituliskan.
Suplemen tidak ada efek samping melainkan hanyalah reaksi awal. Contoh Anda minum minyak kelapa murni untuk diet agar ukuran badan ideal dan kadar gula darah menjadi normal stabil.  Anda merasakan di hari awal minum frekuensi BAB menjadi lebih sering bahkan tinja yang keluar berwarna gelap  kadang berlendir dan encer. Bisa juga Anda menjadi lebih sering merasa lapar atau malah sebaliknya merasa kenyang lebih lama. Ada pula yang kemudian menjadi sering berkeringat, gerah seperti habis joging dan lain-lain,  kejadiannya bisa berbeda-beda pada tiap orang. Inilah yang disebut reaksi awal proses pembersihan toksin-toksin dalam saluran pencernaan maupun dalam darah Anda (detoksifikasi). jika toksin sudah bersih maka tinggal penguatan dan perbaikan badan sesuai dengan tujuan. Adapun efek samping, terjadi setelah mengatasi suatu masalah yang biasanya diikuti timbulnya masalah baru sedangkan reaksi awal, terjadi pada saat sebelumnya menuju teratasinya masalah pokok.

Dari poin-poin di atas dapat disimpulkan bahwa secara manfaat, suplemen pada kondisi tertentu bisa menjadi seperti obat karena  membantu tubuh mendapatkan kekuatan sejatinya untuk menangkal penyakit. Sedangkan obat kimia dengan alasan apapun tidak bisa menjadi suplemen sehingga penggunaannya harus sangat hati-hati. Obat untuk mengobati yang sudah terjadi dengan porsi yang tepat, sedangkan suplemen untuk mencegah hal buruk terkait kesehatan  yang belum terjadi dan dapat pula sangat  membantu pemulihan jika sakit terlanjur terjadi.

Semoga bermanfaat, salam sehat dan cantik alami selalu.

Baca juga: